Pengalaman itu menjadi salah satu hal yang berkesan bagi Adi selama bergabung dengan Kelompok Difabel Kelurahan (KDK) Anggut Atas, Kecamatan Ratu Samban, Kota Bengkulu.
Sebagai pengguna kursi roda, ia merasakan bagaimana interaksi sederhana dapat membuka kesempatan untuk mengenal orang lain, berbagi pengalaman, dan terlibat dalam kegiatan bersama.
Adi bergabung dengan KDK pada Juni 2024. Sebelum mengenal kelompok tersebut, kesehariannya lebih banyak dihabiskan di rumah bersama keluarga. Ia berinteraksi dengan orang-orang yang telah dikenalnya sejak kecil dan menjalin pertemanan melalui grup media sosial berdasarkan minat yang sama.
Pada 2015–2018, Adi pernah beternak ayam. Ia kembali menjalankan usaha tersebut pada 2022 hingga akhir 2024, sebelum berhenti karena perubahan cuaca dan wabah penyakit yang menyerang ayam ternaknya.
Adi mengenal KDK pada pertengahan 2024 melalui Jamal, tetangganya yang saat itu menjadi fasilitator. Sejak bergabung, ia mengikuti pelatihan, lokakarya, diskusi, dan kegiatan masyarakat yang mempertemukannya dengan orang-orang dari latar belakang berbeda.
“Perasaan saya biasa saja kalau bertemu orang baru, karena kebanyakan orang yang saya temui memang datang ke rumah,” kata Adi saat diwawancarai pada 18 Oktober 2026.
Meski menganggap pertemuan dengan orang baru sebagai hal biasa, Adi merasakan perubahan dalam dirinya setelah terlibat di KDK. Ia mengaku semakin jarang merasa gugup atau malu ketika berinteraksi dengan orang lain.
“Perubahan yang paling terasa itu sudah tidak ada perasaan deg-degan atau malu lagi,” ujarnya.
Pengalaman pelatihan bengkel menjadi salah satu gambaran bagaimana interaksi dengan orang lain memberi ruang bagi Adi untuk belajar bersama. Menurutnya, peserta lain menerima kehadirannya dan bersedia membantu ketika ia menghadapi kesulitan yang tidak dapat diselesaikannya sendiri, bahkan sebelum ia meminta bantuan. Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa penerimaan dapat hadir melalui interaksi sederhana, termasuk kesediaan untuk berbicara, belajar bersama, dan membantu ketika dibutuhkan.
Dukungan keluarga sebenarnya telah ia rasakan sejak lama. Kehadiran KDK kemudian memperluas lingkaran pertemanannya. Teman-teman dalam kelompok tersebut mengajaknya berdiskusi dan mengikuti kegiatan komunitas lainnya. Ia juga mendapat kesempatan untuk berkomunikasi secara langsung dengan pihak kelurahan.
Sejak Juni 2024, Adi dipercaya menjadi Ketua KDK Anggut Atas. Ia mengikuti diskusi rutin bulanan untuk membahas rencana kerja, menampung usulan anggota, dan mengambil keputusan melalui musyawarah. Ketika muncul perbedaan pendapat, ia berusaha menengahi agar persoalan dapat dibicarakan bersama. Keterlibatan KDK Anggut Atas juga terlihat dalam sejumlah forum di tingkat kelurahan, seperti musyawarah Kopdes, musyawarah kepanitiaan lomba 17 Agustus, dan diskusi koordinasi antara KDK dan kelurahan.
Bagi Adi, keterlibatan dalam kelompok dan kegiatan masyarakat memberinya kesempatan untuk bertukar pikiran serta mengambil peran bersama orang lain. Pengalaman tersebut berjalan seiring dengan pandangannya bahwa kondisi fisik tidak seharusnya membuat seseorang merasa lebih rendah.
Pengalaman bersama sesama difabel juga memengaruhi cara Adi melihat kehidupan. Ia melihat ada difabel yang menghadapi hambatan mobilitas lebih besar dalam keseharian, tetapi tetap ingin keluar rumah dan mengikuti kegiatan. Pengalaman itu menjadi bahan pembelajaran baginya untuk memahami kondisi orang lain sekaligus melihat kemampuan dan potensi yang dimiliki setiap orang.
Adi ingin sesama difabel tidak merasa rendah diri karena kondisi fisik mereka. Menurutnya, setiap orang memiliki nilai diri dan potensi yang dapat dikembangkan.
“Jangan merasa lebih rendah dari orang lain sementara Tuhan memandang kita sama. Jika memang ada rasa malu dan minder ketika bertemu orang baru, yakinlah kalau kita dipandang bukan karena bentuk fisik, tetapi karena nilai-nilai yang ada pada diri sendiri dan potensi yang dimiliki,” ujarnya.
Namun, kepercayaan diri bukan satu-satunya hal yang menentukan apakah difabel dapat berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat. Adi menilai masih ada wilayah atau tempat yang belum memiliki akses memadai bagi difabel.
Hambatan aksesibilitas dapat menyulitkan mereka untuk beraktivitas dan mengikuti kegiatan di luar rumah. Karena itu, partisipasi tidak cukup hanya bergantung pada keberanian individu; lingkungan juga perlu memberi kesempatan agar difabel dapat hadir, menyampaikan pendapat, dan terlibat dalam kehidupan bermasyarakat.
Adi berharap KDK dapat terus berkembang sebagai mitra pemerintah kelurahan sekaligus ruang bagi difabel untuk menyampaikan gagasan dan kebutuhan mereka.
“Harapan saya untuk KDK, semoga bisa tumbuh menjadi mitra pemerintah kelurahan untuk menyampaikan ide dan gagasan teman-teman, mendengar keluhan yang dihadapi sebagai masyarakat di wilayah masing-masing, serta hadir menjadi peserta dan berpartisipasi bersama teman-teman lainnya,” kata Adi.
Bagi Adi, KDK menjadi ruang untuk memperluas pergaulan, belajar melalui pengalaman bersama, dan menjalankan tanggung jawab di komunitas. Dukungan keluarga yang telah ia rasakan sejak lama tetap menjadi bagian penting dalam kehidupannya, sementara KDK memperluas kesempatan untuk berinteraksi dan berpartisipasi. Pengalamannya menunjukkan bahwa menghargai diri sendiri dan memperoleh ruang untuk terlibat dalam masyarakat merupakan dua hal yang dapat berjalan beriringan.
Penulis : Erinne Chelsya



