Kembali ke Berita
Cerita Perubahan

Merajut Asa dan Kepercayaan Diri Melalui KDD

Pada awalnya kondisi di desa Rimbo Recap dan desa Lubuk Ubar Kabupaten Rejang Lebong hampir sama dengan kebanyakan desa lainnya. Keberadaan warga difabel belum terkondisikan dengan baik. Bahkan masih banyak warga difabel yang belum terdata oleh pemerintah desa, dan akses ke layanan publik pun masih terkotak-kotak belum menjangkau warga difabel desa.

Merajut Asa dan Kepercayaan Diri Melalui KDD
Seto - 15 Juni 2026

Pada awalnya kondisi di desa Rimbo Recap dan desa Lubuk Ubar Kabupaten Rejang Lebong hampir sama dengan kebanyakan desa lainnya. Keberadaan warga difabel belum terkondisikan dengan baik. Bahkan masih banyak warga difabel yang belum terdata oleh pemerintah desa, dan akses ke layanan publik pun masih terkotak-kotak belum menjangkau warga difabel desa.

Sejak Maret 2024 PMMI sebagai sub mitra SIGAB Indonesia hadir di desa Rimbo Recap, desa Lubuk Ubar dan desa Kampung Delima melalui program SOLIDER (Penguatan Inklusi Sosial untuk Kesetaraan dan Hak-Hak Difabel), program yang diinisiasi oleh SIGAB Indonesia yang didukung oleh program INKLUSI. Bagi warga difabel yang tinggal di tiga desa ini, kehadiran PMMI dianggap membawa angin segar bagi mereka, mereka melihat sebuah harapan yang membangkitkan semangat untuk memaknai hidup sebagai seorang penyandang disabilitas.

Berbagai rangkaian kegiatan dilaksanakan oleh PMMI melalui program SOLIDER mulai dari advokasi, pendataan hingga pemberdayaan difabel desa. Salah satu praktek baik yang dihasilkan melalui program SOLIDER adalah terbentuknya Kelompok Difabel Desa (KDD) di desa Rimbo Recap, Lubuk Ubar dan Kampung Delima yang menjadi wadah bagi difabel desa berkomunitas, berkegiatan, berekspresi, berkarya dan menyalurkan aspirasi.

Salah satu dampak positif kehadiran KDD dirasakan oleh Asep Sunandar atau Andar. “Sebelum terbentuk KDD saya tidak pernah terlibat dan dilibatkan dalam berbagai kegiatan desa dan tidak mendapatkan akses informasi terkait desa” ucap Andar yang juga menjabat sebagai ketua KDD Jaya Mandiri Desa Riimbo Recap. “Begitu juga dengan teman-teman difabel lainnya yang ada di desa, mereka kurang mendapatkan akses informasi terkait kegiatan desa” sambung Andar. Setelah ada KDD, Andar merasa lebih terperhatikan dan bisa aktif berkontribusi sebagai warga desa, mendapat akses dan kesempatan terlibat dalam berbagai kegiatan desa bahkan dapat memberikan suara dan pendapat dalam berbagai forum musyawarah desa. Bertemu dan berkomunitas dengan sesama difabel di KDD juga menumbuhkan rasa percaya diri Andar.

Hal serupa dituturkan oleh Widia Wulandari atau lebih akrab dipanggil Wulan difabel fisik, sekretaris KDD Difakarya Desa Lubuk Ubar yang saat ini juga berstatus sebagai mahasiswi di salah satu universitas di Rejang Lebong. “Sebelum ada KDD, saya merasa sangat terbatas dalam mengakses informasi dan kesempatan di desa. Saya juga menghadapi hambatan fisik dan sosial yang membuat saya merasa tidak percaya diri dan kurang setara dengan orang lain, begitu juga dengan difabel lainnya di desa yang sangat terhambat dalam akses layanan sehingga merasa terisolasi.” ujar Wulan. Dengan hadirnya KDD membawa perubahan positif dalam diri Wulan, dengan adanya komunitas difabel menumbuhkan rasa percaya diri Wulan, ada tempat berbagi dan menguatkan, dan melalui KDD Wulan mendapatkan kesempatan untuk peningkatan kapasitas pengetahuan dan keterampilan melalui berbagai pelatihan KDD baik yang diselenggarakan oleh PMMI maupun dari pihak lain. “Saya merasa lebih percaya diri dan mandiri” imbuh Wulan. Tak hanya Wulan, anggota KDD Difakarya lainnya pun merasakan manfaat yang sama, KDD memberikan harapan dan peluang-peluang untuk berdaya, dan juga difabel menjadi lebih terperhatikan oleh pemerintah desa sehingga untuk akses layanan publik untuk difabel di desa Lubuk Ubar menjadi lebih baik.

Berbagai praktek baik dihasilkan dari kehadiran KDD, keberadaan difabel desa lebih terperhatikan tidak lagi seperti berada ‘antara ada dan tiada”, KDD diakui sebagai organisasi di desa yang dikuatkan dengan SK kepala desa, difabel desa mulai dilibatkan dalam berbagai kegiatan desa, program-program desa mulai menyentuh difabel lewat peran KDD, difabel sudah dapat mengakses layanan publik seperti layanan kesehatan dan adminduk,kemudian adanya penguatan kapasitas difabel dalam pengetahuan, keterampilan dan ekonomi melalui peranan KDD. Perubahan ini tidak terlepas dari peran aktif dari anggota KDD serta pendampingan dari Fasilitator Desa sebagai pendamping KDD dan PMMI dan tentu saja peranan pemerintah desa.

Berita Terkait

Baca artikel lainnya dalam kategori yang sama

Adi, KDK, dan Ruang untuk Bertumbuh

Adi, KDK, dan Ruang untuk Bertumbuh

BENGKULU-Saat mengikuti pelatihan bengkel bersama warga binaan Bentiring, Adi mendapat kesempatan berinteraksi dengan orang-orang di luar lingkungan yang biasa ia temui. Saat istirahat, peserta lain mengajaknya berbincang tentang kehidupan sehari-hari dan aktivitas masing-masing. Mereka belajar bersama dan saling membantu ketika menghadapi kesulitan. Pengalaman itu menjadi salah satu hal yang berkesan bagi Adi selama bergabung dengan Kelompok Difabel Kelurahan (KDK) Anggut Atas, Kecamatan Ratu Samban, Kota Bengkulu. Sebagai pengguna kursi roda, ia merasakan bagaimana interaksi sederhana dapat membuka kesempatan untuk mengenal orang lain, berbagi pengalaman, dan terlibat dalam kegiatan bersama.

Baca Selengkapnya
Dari Terpinggirkan Menjadi Terdaftar: Jalan Difabel Menuju Dunia Kerja di Rejang Lebong

Dari Terpinggirkan Menjadi Terdaftar: Jalan Difabel Menuju Dunia Kerja di Rejang Lebong

Popy Irawidita (42 tahun) tidak pernah membayangkan bahwa mengurus sebuah kartu pencari kerja bisa mengubah cara pandangnya tentang masa depan. Perempuan difabel fisik akibat polio itu sudah lama menyimpan ijazah sarjana akuntansi di rumahnya. Setelah lulus kuliah, Popi pernah bekerja sebentar, namun harus berjneti karena jarak kantor yang terlalu jauh dari rumahnya. Bertahun-tahun setelahnya, ia belum juga mendapatkan pekerjaan. Bukan karena tidak memiliki kemampuan, tetapi karena akses dan kesempatan sering kali terasa jauh dari jangkauannya.

Baca Selengkapnya
Dari Peraturan ke Partisipasi: Mengawal Lahirnya 153 Kelompok Difabel di Desa  dan  Kelurahan di Rejang Lebong Bengkulu

Dari Peraturan ke Partisipasi: Mengawal Lahirnya 153 Kelompok Difabel di Desa dan Kelurahan di Rejang Lebong Bengkulu

Bagi banyak difabel di kabupaten Rejang Lebong provinsi Bengkulu, keterlibatan dalam pembangunan desa dan kelurahan bukanlah hal yang mudah. Mereka sering kali belum terdata dengan baik, belum memiliki wadah untuk menyampaikan aspirasi, dan jarang dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan. Kondisi ini perlahan mulai berubah berkat komitmen kuat Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kabupaten Rejang Lebong bersama PMMI sebagai sub mitra SIGAB Indonesia melalui Program SOLIDER INKLUSI dalam mendorong lahirnya kebijakan yang lebih inklusif.

Baca Selengkapnya