Pada awalnya kondisi di desa Rimbo Recap dan desa Lubuk Ubar Kabupaten Rejang Lebong hampir sama dengan kebanyakan desa lainnya. Keberadaan warga difabel belum terkondisikan dengan baik. Bahkan masih banyak warga difabel yang belum terdata oleh pemerintah desa, dan akses ke layanan publik pun masih terkotak-kotak belum menjangkau warga difabel desa.
Sejak Maret 2024 PMMI sebagai sub mitra SIGAB Indonesia hadir di desa Rimbo Recap, desa Lubuk Ubar dan desa Kampung Delima melalui program SOLIDER (Penguatan Inklusi Sosial untuk Kesetaraan dan Hak-Hak Difabel), program yang diinisiasi oleh SIGAB Indonesia yang didukung oleh program INKLUSI. Bagi warga difabel yang tinggal di tiga desa ini, kehadiran PMMI dianggap membawa angin segar bagi mereka, mereka melihat sebuah harapan yang membangkitkan semangat untuk memaknai hidup sebagai seorang penyandang disabilitas.
Berbagai rangkaian kegiatan dilaksanakan oleh PMMI melalui program SOLIDER mulai dari advokasi, pendataan hingga pemberdayaan difabel desa. Salah satu praktek baik yang dihasilkan melalui program SOLIDER adalah terbentuknya Kelompok Difabel Desa (KDD) di desa Rimbo Recap, Lubuk Ubar dan Kampung Delima yang menjadi wadah bagi difabel desa berkomunitas, berkegiatan, berekspresi, berkarya dan menyalurkan aspirasi.
Salah satu dampak positif kehadiran KDD dirasakan oleh Asep Sunandar atau Andar. “Sebelum terbentuk KDD saya tidak pernah terlibat dan dilibatkan dalam berbagai kegiatan desa dan tidak mendapatkan akses informasi terkait desa” ucap Andar yang juga menjabat sebagai ketua KDD Jaya Mandiri Desa Riimbo Recap. “Begitu juga dengan teman-teman difabel lainnya yang ada di desa, mereka kurang mendapatkan akses informasi terkait kegiatan desa” sambung Andar. Setelah ada KDD, Andar merasa lebih terperhatikan dan bisa aktif berkontribusi sebagai warga desa, mendapat akses dan kesempatan terlibat dalam berbagai kegiatan desa bahkan dapat memberikan suara dan pendapat dalam berbagai forum musyawarah desa. Bertemu dan berkomunitas dengan sesama difabel di KDD juga menumbuhkan rasa percaya diri Andar.
Hal serupa dituturkan oleh Widia Wulandari atau lebih akrab dipanggil Wulan difabel fisik, sekretaris KDD Difakarya Desa Lubuk Ubar yang saat ini juga berstatus sebagai mahasiswi di salah satu universitas di Rejang Lebong. “Sebelum ada KDD, saya merasa sangat terbatas dalam mengakses informasi dan kesempatan di desa. Saya juga menghadapi hambatan fisik dan sosial yang membuat saya merasa tidak percaya diri dan kurang setara dengan orang lain, begitu juga dengan difabel lainnya di desa yang sangat terhambat dalam akses layanan sehingga merasa terisolasi.” ujar Wulan. Dengan hadirnya KDD membawa perubahan positif dalam diri Wulan, dengan adanya komunitas difabel menumbuhkan rasa percaya diri Wulan, ada tempat berbagi dan menguatkan, dan melalui KDD Wulan mendapatkan kesempatan untuk peningkatan kapasitas pengetahuan dan keterampilan melalui berbagai pelatihan KDD baik yang diselenggarakan oleh PMMI maupun dari pihak lain. “Saya merasa lebih percaya diri dan mandiri” imbuh Wulan. Tak hanya Wulan, anggota KDD Difakarya lainnya pun merasakan manfaat yang sama, KDD memberikan harapan dan peluang-peluang untuk berdaya, dan juga difabel menjadi lebih terperhatikan oleh pemerintah desa sehingga untuk akses layanan publik untuk difabel di desa Lubuk Ubar menjadi lebih baik.
Berbagai praktek baik dihasilkan dari kehadiran KDD, keberadaan difabel desa lebih terperhatikan tidak lagi seperti berada ‘antara ada dan tiada”, KDD diakui sebagai organisasi di desa yang dikuatkan dengan SK kepala desa, difabel desa mulai dilibatkan dalam berbagai kegiatan desa, program-program desa mulai menyentuh difabel lewat peran KDD, difabel sudah dapat mengakses layanan publik seperti layanan kesehatan dan adminduk,kemudian adanya penguatan kapasitas difabel dalam pengetahuan, keterampilan dan ekonomi melalui peranan KDD. Perubahan ini tidak terlepas dari peran aktif dari anggota KDD serta pendampingan dari Fasilitator Desa sebagai pendamping KDD dan PMMI dan tentu saja peranan pemerintah desa.



