KOTA BENGKULU—Dinas Sosial Kota Bengkulu belum memiliki data khusus mengenai difabel yang rentan terdampak banjir. Kondisi tersebut terungkap dalam audiensi Tim GOFOR (Gerakan Optimalisasi Forum Difabel dalam Ketahanan Iklim Kota Bengkulu) bersama Dinas Sosial Kota Bengkulu, Selasa (8/9/2026).
Audiensi yang berlangsung di Kantor Dinas Sosial Kota Bengkulu itu diterima Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial (Rehsos), Irwansyah, S.STP., M.Si. Pertemuan tersebut membahas kondisi dan kesiapsiagaan difabel dalam menghadapi bencana, khususnya banjir yang menjadi salah satu ancaman di Kota Bengkulu.
Tim GOFOR menggali sejumlah informasi, di antaranya terkait ketersediaan data difabel yang rentan terdampak banjir, pendampingan psikososial pascabencana, serta pelaksanaan sosialisasi dan simulasi kebencanaan oleh Dinas Sosial.
Irwansyah menjelaskan, data yang dimiliki Dinas Sosial lebih banyak diperbarui berdasarkan kondisi ketika terjadi bencana, terutama untuk mendata masyarakat yang menjadi korban atau terdampak. Ia mencontohkan pendataan yang dilakukan setelah kejadian kebakaran baru-baru ini.
Sementara itu, ketika dalam satu tahun tidak terjadi bencana, pembaruan data masyarakat yang terdampak bencana tidak dilakukan secara khusus. Dengan kondisi tersebut, belum tersedia data khusus dan pasti mengenai difabel yang rentan terdampak banjir.
Persoalan data menjadi salah satu hal penting dalam kesiapsiagaan bencana. Data yang terpilah dan mutakhir dapat membantu mengidentifikasi kelompok yang membutuhkan perhatian khusus serta menjadi dasar dalam menyusun langkah penanganan dan evakuasi yang sesuai dengan kebutuhan difabel.
Selain data, audiensi juga membahas pendampingan psikososial pascabencana. Dinas Sosial menyampaikan bahwa pendampingan diberikan kepada masyarakat yang terdampak bencana dan dalam pelaksanaannya dapat dilakukan melalui kerja sama dengan berbagai pihak terkait.
Pembahasan juga menyinggung kegiatan sosialisasi dan simulasi kebencanaan. Menurut Dinas Sosial, kegiatan serupa sebelumnya pernah dilaksanakan. Namun, hingga audiensi berlangsung, sosialisasi maupun simulasi kebencanaan belum dilaksanakan pada 2026.
Kondisi tersebut menjadi ruang bagi GOFOR untuk mendorong keterlibatan difabel dalam kegiatan kesiapsiagaan bencana. Tim GOFOR menyampaikan kesiapan untuk berpartisipasi apabila Dinas Sosial kembali mengadakan sosialisasi maupun simulasi kebencanaan.
Pelibatan tersebut dinilai penting agar difabel tidak hanya menjadi kelompok yang menerima informasi saat bencana terjadi, tetapi juga dapat terlibat dalam proses kesiapsiagaan dan memahami langkah evakuasi yang sesuai dengan kebutuhan mereka.
Usulan tersebut mendapat respons positif dari Dinas Sosial. Irwansyah menyampaikan bahwa difabel akan diupayakan untuk dilibatkan dalam kegiatan sosialisasi maupun simulasi kebencanaan yang dilaksanakan ke depan.
Audiensi ini menjadi langkah awal untuk membuka peluang kerja sama antara Forum Difabel Kota Bengkulu dan Dinas Sosial dalam memperkuat kesiapsiagaan bencana yang lebih inklusif. Kerja sama tersebut diharapkan dapat mendorong keterlibatan difabel dalam perencanaan maupun pelaksanaan kegiatan kebencanaan di Kota Bengkulu.
Program GOFOR dilaksanakan oleh Perkumpulan Mitra Masyarakat Inklusif (PMMI) Bengkulu melalui dukungan program Climate Justice Defender 2.0 bagi organisasi masyarakat sipil dan komunitas warga di Indonesia tahun 2026 oleh YAPPIKA.



