Kota Bengkulu – Upaya memperkuat inklusi sosial bagi difabel terus dilakukan di Kecamatan Ratu Agung, Kota Bengkulu. Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam kegiatan silaturahmi Perkumpulan Mitra Masyarakat Inklusif (PMMI) Bengkulu bersama Camat Ratu Agung, Subhan Gusti Hendri, S.Sos., yang dilaksanakan pada Selasa, 1 September 2026 di pekarangan rumah Ketua RT 9, Kelurahan Tanah Patah, Kecamatan Ratu Agung, Kota Bengkulu.
Kegiatan silaturahmi ini dilakukan untuk membahas kelanjutan pembentukan Kelompok Difabel Kelurahan (KDK) di wilayah Kecamatan Ratu Agung. Dalam kesempatan ini turut membahas perkembangan pembentukan KDK yang telah berjalan dan berbagai kendala yang masih dihadapi di lapangan, serta rencana untuk melibatkan seluruh lurah di Kecamatan Ratu Agung bersama Perkumpulan Mitra Masyarakat Inklusif (PMMI) Bengkulu dalam koordinasi lanjutan terkait pembentukan KDK.
Camat Ratu Agung, Subhan Gusti Hendri, S.Sos., menyampaikan dukungannya terhadap pembentukan KDK di seluruh kelurahan yang berada di wilayah Kecamatan Ratu Agung. Menurutnya, keberadaan KDK dapat menjadi wadah untuk memperkuat keterlibatan dan partisipasi difabel di lingkungan masyarakat.
“Kecamatan siap mendukung, kedepannya akan berkoordinasi dengan seluruh lurah di Kecamatan Ratu Agung untuk membentuk Kelompok Difabel Kelurahan. Semoga di bulan ini bisa terbentuk KDK di seluruh Kelurahan di Kecamatan Ratu Agung ini,” ujar Subhan Gusti Hendri.
Selain membahas pembentukan KDK, pertemuan juga menjadi kesempatan untuk melihat perkembangan bank sampah Kecamatan Ratu Agung yang saat ini mulai dikembangkan dengan melibatkan KDK yang telah terbentuk. Pengelolaan bank sampah tersebut tidak hanya berfokus pada pemilahan sampah anorganik, tetapi juga mulai diarahkan pada pengelolaan sampah organik melalui pengembangan ternak maggot.
Ketua Bank Sampah Kecamatan Ratu Agung, Indra Gultom, menjelaskan bahwa pengembangan maggot dilakukan sebagai salah satu alternatif untuk mengurangi sampah organik, khususnya sampah dapur yang dihasilkan masyarakat.
“Kami sedang memulai melakukan ternak maggot agar dapat membantu dalam penguraian sampah organik, karena maggot ini mampu mengurai sampah organik dengan cepat. Selain itu, maggot juga dapat dimanfaatkan menjadi pakan ternak yang bernutrisi,” jelas Indra.
Menurutnya, budidaya maggot juga memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi salah satu kegiatan yang memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat. Maggot relatif cepat berkembang biak sehingga apabila dilakukan dalam skala yang lebih besar, kegiatan tersebut berpotensi memberikan tambahan penghasilan bagi masyarakat.
Dalam proses awal pengembangan ternak maggot tersebut, keterlibatan mahasiswa KKN Kelompok 32 Universitas Muhammadiyah Bengkulu (UMB) turut memberikan dukungan. Indra mengapresiasi antusiasme mahasiswa KKN yang dinilai aktif dalam membantu proses pengembangan kegiatan tersebut.
“Maggot cepat dikembangbiakkan dan juga dapat membantu perekonomian apabila ternak maggot dilakukan dalam jumlah banyak. Dalam memulai ini, peran adik-adik dari KKN Kelompok 32 UMB sangat membantu, mereka memiliki antusias yang tinggi dan sangat aktif,” tambahnya.
Dalam kegiatan tersebut, beberapa anggota Ikatan Istri Dokter (IID) juga turut hadir untuk melihat secara langsung pengembangan ternak maggot yang dilakukan di pekarangan rumah Ketua RT 9 Tanah Patah, Kecamatan Ratu Agung. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkenalkan pengelolaan sampah organik berbasis masyarakat sekaligus melihat potensi pengembangannya ke depan.
Indra berharap pengelolaan sampah organik melalui budidaya maggot dapat terus dikembangkan dan tidak hanya diterapkan di Kecamatan Ratu Agung. Ia berharap metode tersebut dapat menjadi salah satu alternatif pengelolaan sampah yang dapat diterapkan di wilayah lain, khususnya di Kota Bengkulu.
“Semoga penguraian sampah organik melalui maggot ini nantinya tidak hanya dilakukan di Kecamatan Ratu Agung, namun dapat dilakukan di banyak tempat, terutama di Kota Bengkulu,” harap Indra.
Ke depan, pembentukan KDK di seluruh kelurahan di Kecamatan Ratu Agung diharapkan dapat berjalan beriringan dengan pengembangan berbagai kegiatan masyarakat, termasuk pengelolaan bank sampah. KDK yang terbentuk diharapkan tidak hanya menjadi wadah bagi difabel untuk menyampaikan aspirasi, tetapi juga dapat berpartisipasi aktif dalam kegiatan sosial, lingkungan, dan ekonomi di wilayah masing-masing.
Melalui kolaborasi antara pemerintah kecamatan, pemerintah kelurahan, PMMI, kelompok masyarakat, KKN UMB, serta berbagai pihak lainnya, diharapkan terbentuk ekosistem yang semakin inklusif dan memberikan ruang yang lebih luas bagi difabel untuk berpartisipasi dan berkontribusi dalam pembangunan di Kecamatan Ratu Agung.



