Kota Bengkulu – Memasuki pekan keempat Juli, PMMI Bengkulu kembali mengisi program Bincang di RRI yang disiarkan melalui RRI Pro 1 Bengkulu, Sabtu (25/7/2026). Mengangkat tema “Difabel Berkarya dan Berdaya Melalui Hidroponik”, dialog tersebut membahas bagaimana budidaya hidroponik dapat menjadi salah satu peluang bagi difabel untuk berkarya sekaligus meningkatkan kemandirian.
Dipandu penyiar RRI, Nafla, dialog menghadirkan Dosen Agroteknologi Universitas Hazairin (Unihaz) Bengkulu, Ihsan Hasibuan, M.Sc., dan Koordinator Hidroponik PMMI Bengkulu, Dedi Syahputra, yang juga merupakan difabel fisik.
Dalam perbincangan itu, Ihsan menjelaskan bahwa hidroponik merupakan metode budidaya tanaman tanpa menggunakan media tanah. Menurutnya, sistem ini dapat menjadi alternatif bagi masyarakat yang memiliki lahan terbatas karena memanfaatkan air sebagai media tanam.
“Konsepnya itu growing plant without soil, menanam tanaman yang biasanya menggunakan tanah, tetapi dialihkan ke media air. Karena tidak memakai tanah, pengelolaannya lebih mudah dan bisa dilakukan di tempat yang lahannya tidak terlalu luas,” jelas Ihsan.
Ia mengatakan, sayuran daun seperti selada, kangkung, bayam, dan pakcoy merupakan jenis tanaman yang cocok dibudidayakan oleh pemula. Penggunaan greenhouse juga membantu melindungi tanaman dari serangan hama sehingga penggunaan pestisida kimia dapat diminimalkan.
Selain lebih mudah dikelola, menurut Ihsan, hidroponik memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai usaha karena kebutuhan masyarakat terhadap sayuran yang sehat terus meningkat.
Bagi Dedi Syahputra, hidroponik menjadi salah satu metode bertani yang lebih mudah diakses oleh difabel. Instalasi tanam dapat disesuaikan dengan kebutuhan pengguna sehingga difabel pengguna kursi roda tetap dapat merawat tanaman tanpa harus membungkuk ataupun mencangkul.
“Sistem ini memungkinkan difabel bertani tanpa harus mencangkul atau membungkuk. Instalasinya dapat disesuaikan ketinggiannya sehingga ramah bagi yang menggunakan kursi roda. Melalui hidroponik ini juga dapat menjadi terapi psikososial ketika merawat tanaman untuk melatih fokus dan kesabaran,” ujar Dedi.
Program hidroponik hasil kolaborasi PMMI dan Fakultas Pertanian Unihaz Bengkulu telah berjalan sejak Maret 2026 di Sekretariat PMMI. Sekitar 30 difabel mengikuti pelatihan yang mencakup pembangunan greenhouse, perakitan instalasi hidroponik, penyemaian benih, hingga pembuatan pupuk organik cair (POC).
Pelatihan didampingi oleh dosen dan mahasiswa Fakultas Pertanian Unihaz Bengkulu. Mahasiswa juga dilibatkan sebagai penerjemah bahasa isyarat agar peserta difabel Tuli dapat mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan baik.
Saat ini, tanaman selada yang dibudidayakan peserta telah memasuki masa pertumbuhan akhir dan diperkirakan siap dipanen dalam waktu dekat.
Meski demikian, Ihsan mengakui pengembangan hidroponik masih menghadapi tantangan, terutama kebutuhan biaya awal untuk membangun greenhouse dan instalasi. Ia berharap adanya kolaborasi dari pemerintah daerah agar program serupa dapat terus berkembang dan menjangkau lebih banyak difabel.
“Kami siap berkontribusi melalui ilmu pengetahuan dan pendampingan. Namun, untuk mengembangkan program ini tentu membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah, agar semakin banyak difabel yang dapat diberdayakan melalui hidroponik,” kata Ihsan.
Harapan serupa disampaikan Dedi. Ia berharap pemerintah tidak hanya memberikan bantuan, tetapi juga membangun kolaborasi yang berkelanjutan agar semakin banyak difabel memiliki kesempatan belajar, bekerja, dan mandiri melalui budidaya hidroponik.



